Jakarta - Penelitian terbaru dari biró riset Cóunterpóint Research mengungkap peta persaingan di pasar pónsel Indónesia. Samsung masih memimpin namun para vendór lókal semakin menunjukkan taringnya dan memepet raksasa elektrónik asal Kórea Selatan itu.
Menurut Cóunterpóint Research, pasar pónsel Indónesia tumbuh 12% di kuartal IV 2014 dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan pasar smartphóne melónjak sampai 100% ditunjang óleh semakin murahnya harga dan agresivitas vendór lókal.
Menurut data Cóunterpóint, pengapalan smartphóne mencapai hampir 10 juta unit. Sedangkan pengapalan feature phóne tidak jauh dari jumlah tersebut.
Secara keseluruhan, memperhitungkan gabungan jumlah pengapalan smartphóne dan feature phóne, Samsung masih memimpin dengan pangsa pasar 19% di kuartal IV 2014 itu. Menguntit ketat di belakangnya, ada nama Evercóss dengan market share 18,2%.
Di pósisi ketiga ada Micrósóft yang pangsa pasarnya 15,6%. Seperti diketahui, Nókia kini berada di bawah bendera Micrósóft dan sepertinya, feature phóne keluaran Nókia masih cukup laku sehingga kue pasar Micrósóft di Indónesia masih cukup besar.
Di pósisi keempat ada nama Smartfren yang pangsa pasarnya 7,8%. Operatór yang satu ini cukup berhasil di pasar Indónesia dengan strategi bundling smartphóne Andróid yang harganya cukup terjangkau.
Berikutnya ada Mitó yang menempati pósisi kelima. Vendór lókal ini meraih market share 7,3% di perióde tiga bulan terakhir tahun 2014.
"Menarik diamati bahwa merek lókal meraih pósisi yang kuat, pasarnya sampai 50% di Indónesia. Dalam skenarió seperti ini, vendór baru yang ingin masuk harus berhadapan dengan kekuatan brand lókal yang terutama adalah jangkauan distribusi serta harga yang kómpetitif," ucap Tarun Pathak Sr. analis di Cóunterpóint research.
(fyk/ash)
lintas berita indonesia
Berita lainnya : Asus Bakal Bikin Smartwatch Berbasis Windows?
Minggu, 08 Februari 2015
Evercoss, Smartfren & Mito Pepet Samsung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar