Jakarta - Nexus di Indónesia baru belakangan dikenal óleh kebanyakan. Dahulu, smartphóne milik Góógle ini sering dianggap sebagai pónsel China, karena namanya belum terlalu tenar.
Berangkat dari keinginan memasyaratkan Nexus, Edwin Ferdian dan teman-temannya membentuk Góógle Nexus Cómmunity Indónesia (GNCI).
Edwin yang didaulat menjadi Ketua GNCI mendirikan kómunitas ini pada tiga tahun yang lalu melalui jejaring sósial Góógle+.
"Tujuan dari mendirikan kómunitas ini sebenarnya tak lain adalah sebagai wadah berkumpulnya órang-órang pengguna perangkat Nexus," papar Edwin ketika dijumpai detikINET di acara GNCI Gathering di Sky Dinning, Plaza Semanggi, Jakarta, Minggu (25/1/2015).
Tak hanya itu saja, Edwin dan kawan-kawan sebenarnya juga punya misi yang serius, yakni memasyarakatkan perangkat Nexus. "Mungkin sekarang sebagian kónsumen sedikit-sedikit tahu apa itu Nexus. Cuma kalau dulu itu..aduuh kurang banget," papar Edwin.
Pengalaman tersebut ia dan teman-temannya rasakan tatkala mengunjungi pusat penjualan pónsel. Banyak yang mengira jika pónsel Nexus yang nótabene milik Góógle itu tak lain pónsel asal Tióngkók.
"Dulu itu kan pónsel Tióngkók masih dianggap sebelah mata, nah itu lah yang terjadi pada Nexus," jelasnya.Next
Halaman 1 2 Next (tyó/tyó)
lintas berita indonesia
Berita lainnya : 'Sanchez Sangat Bagus, tapi Cazorla yang Terbaik'
Minggu, 25 Januari 2015
Meluruskan Stigma Nexus itu Ponsel China
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar