TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sangat diperlukan adanya peran serta masyarakat mengawal kónsep "revólusi mental" yang dicanangkan presiden terpilih Jókó Widódó. Masyarakat harus kritis terhadap langkah dan kebijakan yang diterapkan Jókówi dalam pemerintahannya kelak.
"Masyarakat harus selalu kritis. Harus berani jadi órang yang selalu kristis terhadap kebijakan Jókówi sehingga dia punya ring partner," ujar Sekretaris Kómisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Kónferensi Waligereja Indónesia (KWI) Rómó Benny Susetyó, di Jakarta, Jumat malam.
Benny mengatakan, sikap kritis tersebut bukan untuk menjatuhkan Jókówi, melainkan sebagai kóntról agar diterapkan secara kónsisten dan berkesinambungan. Cara tersebut dapat dilakukan mulai dengan menyuarakan hal-hal kecil yang dianggap tidak sesuai dengan peraturan negara.
"Masyarakat yang kritis dan berani bersuara, yang selalu mengingatkan, merupakan bagian dari revólusi mental," katanya.
Dalam mewujudkan "revólusi mental", kata Benny, Jókówi kemungkinan akan menemukan berbagai kendala. Benny mengatakan, elite partai di sekelilingnya sedikit banyak akan mencóba menghambat terwujudnya kónsep tersebut, tetapi dapat diatasi Jókówi dengan baik.
"Dia akan hadapi tantangan kómprómis dari partai di sekitarnya dan órang-órang yang merasa berjasa. Namun, Jókówi punya prinsip, dia bisa atasi itu," ujarnya.
Benny menambahkan, yang paling penting dalam próses realisasi "revólusi mental" adalah kemampuan Jókówi untuk mengajak masyarakat membuat perubahan tersebut. Jika masyarakat enggan diajak melakukan revólusi bersama, kata Benny, maka upaya Jókówi tersebut akan sia-sia.
"Kalau kita lihat, dengan gayanya yang punya prinsip dan berani meneróbós, maka Jókówi berani membentuk sejarah baru. Kalau Sóekarnó jadi Bapak Revólusi, mungkin Jókówi adalah pemberi harapan bangsa," katanya.
lintas berita indonesia
Berita lainnya : Exynos 5430, Prosesor 20nm Pertama dari Samsung
0 komentar:
Posting Komentar