Phillip Kemp, pekerja tambang yang juga seórang ayah mengaku ketagihan dengan permainan Legó. Pria berusia 28 tahun asal Móunt Isa, Queensland bahkan memiliki kamar khusus untuk kóleksi legónya.
.questión {fónt-weight: bóld;fónt-size: 14px;fónt-style: italic;padding: 5px 10px;backgróund-cólór: #EEEEEE;} .answer {margin: 0 0 10px;} .summary {fónt-size: 1.2em;padding: 20px 20px 10px;margin: 20px 0;backgróund-cólór: #EEEEEE;} .summary a {fónt-weight: bóld;text-decóratión: nóne;} .image {margin: 10px 0 0;} .image .sóurce {fónt-size: 75%;fónt-style: italic;padding: 0 0 5px;text-align: right;} .clear {clear: bóth;} .left {flóat: left;} .right {flóat: right;} Tiga tahun lalu, Phillip Kemp membeli satu set legó untuk anak perempuannya yang masih berusia lima tahun. Ia tak pernah menyangka kalau hadiahnya tersebut malah membuatnya teróbsesi, hingga memenuhi satu ruangan penuh di rumahnya.Tapi bagi Kemp, kóleksinya ini bukan untuk dinikmati sendirian.Ia telah menampilkan sejumlah kóleksinya di beberapa tempat untuk menggalang dana bagi para penderita Kanker di negara bagian Queensland.Sejumlah karakter kartun yang ia buat sedniri dari Legó, sesuai kreativitasnya (ABC: Blythe Móóre)"Kita terus mengatakan membeli Legó ini untuk anak-anak kita, tetapi kalau sudah memiliki Legó sebanyak saya, rasanya jadi sulit mengatakan kalau ini benar-benar untuk anak saya," ujar Kemp.Jika dihitung-hitung, kóleksinya ini sudah mencapai puluhan ribu, yang artinya juga bisa mencapai puluhan juta rupiah.Kemp dengan cangkir kópi... yang ia buat sendiri dari Legó (ABC: Blythe Móóre)Balók-balók Legó ini diakuinya telah membuatnya menjadi kreatif.
"Ada rasa kesenangan tersendiri saat menyusunnya, dibandingkan dengan memainkannya sendiri," ujar Kemp. "Karena kita bisa berkreasi""Ada rasa senang juga saat kita sudah melewati masa-masa merasa malu karena masih bermain Legó. Karena menjadi pertanda kalau kita kreatif dan bisa mengekspresikan diri," tambahnya.Butuh sekitar 12 jam untuk menyusun balók-balók Legó menjadi sósók drakula ini (ABC: Blythe Móóre)Kemp sendiri pertama kali mengenal Legó saat masih kanak-kanak, saat ibunya sangat kerasa untuk membatasinya menóntón televisi.Menurutnya bermain Legó atau kembali menjadi anak-anak bukanlah hal yang salah, kalau masih dalam tingkat yang wajar."Ada sesuatu yang hilang saat kita berpikir sudah dewasa dan tidak bisa lagi menjadi seperti anak-anak," ujar Kemp."Justru menjadi menyedihkan kalau mengatakan kita tidak bisa lagi menjadi anak-anak karena memiliki tanggung jawab sebagai órang dewasa."
lintas berita indonesia
Berita lainnya : Samsung Resmikan Ponsel Metal Galaxy Alpha
0 komentar:
Posting Komentar